Berita Piala Dunia Penghubung Antara Klub Dan Timnas

Penghubung Antara Klub Dan Timnas

Penghubung Antara Klub Dan Timnas

Berita Piala Dunia – Pada pertandingan dua minggu lalu antara Newcastle melawan Hull City, manajer Newcastle, Alan Pardew menurunkan skuad Newcastle tanpa menyertakan satu pun pemain Inggris di sebelas orang yang bermain. Ini bisa dimengerti karena ini bukan pertama kalinya terjadi di Liga Inggris. Arsenal dan Chelsea pernah melakukannya. Bahkan kalau menengok ke seberang ada Internazionale Milan yang sering sekali menurunkan komposisi pemain yang tidak ada warga Italianya di beberapa pertandingan Serie A.

Hal ini jarang terjadi di Liga Jerman dan Liga Spanyol. Bahkan beberapa klub masih mengandalkan pemain murni dari satu kota. Seperti Athletic Bilbao misalnya yang harus memainkan para pemain berdarah Basque. Bukan apa-apa itu adalah tradisi. Toh dengan pemain seperti itu juga Bilbao tidak pernah terdegradasi, bersama Real Madrid dan Barcelona. Di Spanyol dan Jerman kita akan lebih melihat komposisi pemain yang lebih ideal bagi sebuah klub. Yakni, setengah pemain warga negara liga tersebut setengahnya lagi adalah pemain dari luar negara itu. Contoh Real Madrid yang memainkan komposisi 6-5 atau 5-6. Enam posisi untuk pemain-pemain Spanyol seperti Casillas, Ramos, Alonso dan lima posisi untuk pemain-pemain luar seperti Ronaldo dan Bale. Apa pasal di Spanyol dan Jerman bisa melakukan hal tersebut?

Jawabannya adalah karena mereka mempunyai klub feeder alias klub penghubung. Di Spanyol satu tim bisa mempunyai dua bahkan tiga tim yang bermain di divisi berbeda. Jika ada Barcelona utama yang bermain di La Liga Primera Spanyol maka ada Barcelona B yang bermain di satu divisi di bawahnya. Sedangkan, kalau sistem pembinaan klub penghubung di Jerman adalah klub-klub besar seperti Munchen dan Dortmund memilih klub-klub yang lebih kecil yang bermain di divisi bawah kemudian mereka membinanya. Contohnya Bayern Munchen yang membina klub Gurn Munchen dan Kaiser Munich. Mereka akan dibimbing oleh sistem pelatihan Munchen tetapi mereka harus mencari bakat-bakat muda bertalenta untuk diberikan kesempatan menjalankan try-out di Bayern Munchen.

Sistem seperti ini sebenarnya bisa diterapkan di Indonesia. Hanya saja karena perhatian yang kurang dan anggaran yang terbatas sehingga klub-klub Liga Super Indonesia lebih mengandalkan akademi atau sekolah sepak bola yang ada. Jangankan negara kita yang memang sistem sepak bolanya masih berkembang, di Inggris saja masih harus berjuang untuk mewujudkan adanya klub penghubung ini. Sistem di Inggris yang tidak memperbolehkan sebuah klub mempunyai dua tim akhirnya memperlihatkan masalahnya sekarang. Langkah yang kemudian bisa diambil adalah memang membangun sebuah akademi sepak bola yang tepat guna. Itulah yang dilakukan Inggris. Tetapi, ternyata itu saja belum cukup para pemain jebolan akademi haruslah diberikan pengalaman bermain terlebih dulu. Makanya, sebenarnya kebutuhan klub penghubung ini cukup mendesak. Inggris perlu segera menyikapinya. Berita Piala Dunia